Kayu Bulaan Dicabut, Satu Kota Banjir Bandang

by -

Semangat Budaya – Mambangkik batang tarandam adalah ungkapan minang yang artinya sangat positif. Bila orang berhasil mengangkat harga diri pribadi, keluarga atau kampungnya, maka ia disebut berhasil mambangkik batang tarandam. Tapi untuk batang yang terbenam di kolam bulaan, Kelurahan Sigando, Kota Padang Panjang ini hukumnya lain lagi. Ketika kayu itu “dibangkik”, bencana akan datang. Begitu kepercayaan masyarakat setempat.

Bulaan adalah sebutan untuk sebuah kolam yang menjadi tampungan awal mata air terbesar di Sigando. Lokasi mata air ini tidak berapa jauh dari Masjid Asasi yang bersejarah dan menjadi icon kota Padang Panjang. Dalam kolam jernih itu terdapat sebilah kayu besar. Diameternya sekira 1 meter dan panjangnya cuma 3 meter. Kayu tersebut tidak bulat utuh, melainkan seperti belahan sahaja. Tidak berkulit, permukaan kayu tampak sudah begitu tua dengan ruas-ruasnya yang menonjol. Warnanya kekuningan, kecuali pada bagian pangkal dan ujung yang tampak gelap.

Menurut warga sekitar, kayu ditaruh leluhur mereka disana agar mata air bulaan tidak menyemburkan air yang terlalu kuat sehingga menyebabkan banjir. Tapi untuk tujuan tersebut, tentu patutnya kayu tadi dipancangkan. Kenyataannya, kayu tersebut tergolek begitu saja. Disitulah hebatnya kayu legendaris ini.

Jika dilihat dengan seksama, kolam bulaan di Sigando memang cukup unik. Di dalam kolam tumbuh tanaman air disana sini. Tanaman ini tidak biasa ditemukan di tempat lain. Sejumlah ikan hidup dalam kolam bulaan. Ada nila hingga koi. Bahkan, ikan langka yakni ikan masheer atau yang dalam bahasa daerah Minang disebut gariang juga hidup disana. Sekilas kolam itu seperti hutan dalam air saja. Ada bagian yang terbuka dengan dasarnya berupa pasir, ada pula bagian yang dasarnya bebatuan. Selebihnya adalah tanaman air yang merimbun.

Air bulaan, kata warga Sigando tidak pernah kering. Walau musim kemarau sekalipun, debit air tetap sama. Air dari bulaan inilah yang menjadi sumber air wudhu untuk pincuran masjid Asasi Sigando. Hingga kini wargapun masih banyak yang menggantungkan pengairan untuk sawah hingga kebutuhan air harian di rumah mereka dari bulaan.

Uniknya di sekitar bulaan juga terdapat kolam-kolam warga. Namun airnya tidak senantiasa jernih. Kadang begitu keruh. Lain sekali dengan air bulaan yang bagai kaca. Orang yang datang ke Sigando atau mengunjungi masjid Asasi biasanya tak melewatkan kunjungan ke bulaan. Tentang benar atau tidaknya kepercayaan terhadap bulaan dan kayu di dalamnya, semua tentu merupakan misteri. Wallahualam. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published.

No More Posts Available.

No more pages to load.